Nurhaeni
Di suatu sore, seorang anak datang kepada ayahnya yg sedang baca koran…
“Ayah, ayah” kata sang anak…
“Ada apa?” tanya sang ayah…..
“aku capek, sangat capek … aku capek karena aku belajar mati matian untuk mendapat nilai bagus sedang temanku bisa dapat nilai bagus dengan menyontek…aku mau menyontek saja! aku capek. sangat capek…
aku capek karena aku harus terus membantu ibu membersihkan rumah, sedang temanku punya pembantu, aku ingin kita punya pembantu saja! … aku capel, sangat capek …
aku cape karena aku harus menabung, sedang temanku bisa terus jajan tanpa harus menabung…aku ingin jajan terus! …
aku capek, sangat capek karena aku harus menjaga lisanku untuk tidak menyakiti, sedang temanku enak saja berbicara sampai aku sakit hati…
aku capek, sangat capek karena aku harus menjaga sikapku untuk menghormati teman teman ku, sedang teman temanku seenaknya saja bersikap kepada ku…
aku capek ayah, aku capek menahan diri…aku ingin seperti mereka…mereka terlihat senang, aku ingin bersikap seperti mereka ayah ! ..” sang anak mulai menangis…
Kemudian sang ayah hanya tersenyum dan mengelus kepala anaknya sambil berkata ” anakku ayo ikut ayah, ayah akan menunjukkan sesuatu kepadamu”, lalu sang ayah menarik tangan sang anak kemudian mereka menyusuri sebuah jalan yang sangat jelek, banyak duri, serangga, lumpur, dan ilalang… lalu sang anak pun mulai mengeluh ” ayah mau kemana kita?? aku tidak suka jalan ini, lihat sepatuku jadi kotor, kakiku luka karena tertusuk duri. badanku dikelilingi oleh serangga, berjalanpun susah krn ada banyak ilalang… aku benci jalan ini ayah” … sang ayah hanya diam.
Sampai akhirnya mereka sampai pada sebuah telaga yang sangat indah, airnya sangat segar, ada banyak kupu kupu, bunga bunga yang cantik, dan pepohonan yang rindang…
“Wwaaaah… tempat apa ini ayah? aku suka! aku suka tempat ini!” sang ayah hanya diam dan kemudian duduk di bawah pohon yang rindang beralaskan rerumputan hijau.
“Kemarilah anakku, ayo duduk di samping ayah” ujar sang ayah, lalu sang anak pun ikut duduk di samping ayahnya.
” Anakku, tahukah kau mengapa di sini begitu sepi? padahal tempat ini begitu indah…?”
” Tidak tahu ayah, memangnya kenapa?”
” Itu karena orang orang tidak mau menyusuri jalan yang jelek tadi, padahal mereka tau ada telaga di sini, tetapi mereka tidak bisa bersabar dalam menyusuri jalan itu”
” Ooh… berarti kita orang yang sabar ya yah? alhamdulillah”
” Nah, akhirnya kau mengerti”
” Mengerti apa? aku tidak mengerti”
” Anakku, butuh kesabaran dalam belajar, butuh kesabaran dalam bersikap baik, butuh kesabaran dalam kujujuran, butuh kesabaran dalam setiap kebaikan agar kita mendapat kemenangan, seperti jalan yang tadi… bukankah kau harus sabar saat ada duri melukai kakimu, kau harus sabar saat lumpur mengotori sepatumu, kau harus sabar melawati ilalang dan kau pun harus sabar saat dikelilingi serangga… dan akhirnya semuanya terbayar kan? ada telaga yang sangatt indah.. seandainya kau tidak sabar, apa yang kau dapat? kau tidak akan mendapat apa apa anakku, oleh karena itu bersabarlah anakku”
” Tapi ayah, tidak mudah untuk bersabar ”
” Aku tau, oleh karena itu ada ayah yang menggenggam tanganmu agar kau tetap kuat … begitu pula hidup, ada ayah dan ibu yang akan terus berada di sampingmu agar saat kau jatuh, kami bisa mengangkatmu, tapi… ingatlah anakku… ayah dan ibu tidak selamanya bisa mengangkatmu saat kau jatuh, suatu saat nanti, kau harus bisa berdiri sendiri… maka jangan pernah kau gantungkan hidupmu pada orang lain, jadilah dirimu sendiri… seorang pemuda muslim yang kuat, yang tetap tabah dan istiqomah karena ia tahu ada Allah di sampingnya… maka kau akan dapati dirimu tetap berjalan menyusuri kehidupan saat yang lain memutuskan untuk berhenti dan pulang… maka kau tau akhirnya kan?”
” Ya ayah, aku tau.. aku akan dapat surga yang indah yang lebih indah dari telaga ini … sekarang aku mengerti … terima kasih ayah , aku akan tegar saat yang lain terlempar ”
Sang ayah hanya tersenyum sambil menatap wajah anak kesayangannya.
Terimakasih ayah atas motivasi dan dukungan yang ayah berikan kepada aku.
“ Yah, ayah !”
“iya ada apa anakku”
“aku boleh cerita sama ayah tidak?”
“boleh,silahkan anakku cerita apa”!
Dulu,….2 tahun yang lalu, saat aku masih duduk di bangku SMA kelas 1, ada suatu kompetisi untuk mengikuti lomba OLIMPIADE MATEMATIKA antar sekolah, karena aku orangnya nekat, mempunyai keinginan yang kuat, dan ingin mencari pengalaman baru”ya hitung-hitung sebagai kegiatan baru”. Dan aku putuskanuntuk ikut kompetisi olimpiade matematika tersebut. Layaknya remaja pada umumnya semangat aku pun sangat menggebu-gebu saat itu, dan saat ibu Rose memberikan tawaran kepada aku dan teman-teman aku yang lain tentang keikutsertaan olimpiade matematika tersebut. Aku pun langsung saja jawab dengan jari telunjuk mengacung keatas”AKU MAU” dan saat itu aku adalah orang pertama di kelas yang mengajukan diri untuk ikut olimpiade.
Tak selang beberapa lama, Guru seni budaya datang dengan muka dan senyumnya yang kecut, menunda pencatatan diri aku di daftar calon peserta olimpiade matematika antar sekolah itu. Suatu hal yang mendasar dan mungkin bisa di terima bagi para calon peserta olimpiade matematika adalah syaratnya yang sangat sulit yaitu “calon peserta adalah siswa rangking 1 dan 2 atau memiliki nilai prestasi lain yang tinggi”. Sontak aku pun terkejut mendengar syarat tersebut( sedikit sedih ).
Ibu Rose lantas mencari kandidat baru,dengan alasan aku tidak sesuai dengan syarat yang sudah di tentukan, dan aku hanya di jadikan cadangan jika tidak ada calon peserta di kelas itu. Tindakan itu cambuk buat aku,sehina itu kah aku?sebodah itu kah aku?sesusah itu kah olimpiade matematika?sampai aku pun hanya di jadikan cadangan(terbangun dari lamunanku).
(Ibu Rose menghampiri aku)
Ibu Rose: karena tidak ada satu pun yang mau keputusan pun jatuh kepada kamu,apakah kamu sanggup jadi kandidat olimpiade matematika?
Shelena :iya bu , aku sanggup. Walaupun dengan kemampuan aku yang pas-pas an.
Ibu Rose:kamu yakin bisa?”kamu bodoh gitu” oloknya di depan teman-teman kelasku
Shelena : orang tua akupun tidak pernah meragukan aku saat aku mulai belajar berjalan,jadi kenapa aku harus ragu.
Ibu Rose: ya, oklah(sedikit tidak percaya)
Pada saat itu tanggal 8 bulan mei ”Pertempuran di mulai”. Aku pun mulai tidak percaya diri ketika melihat peserta-peserta darisekolahlainyang terlihat hebat dan pintar, sedangkan aku biasa saja. Tetapi aku pun kembali bangkit dengan semangat dan tekadaku yang kuat ”aku yakin , aku bisa” . Dengan membaca bismillahirrahmanirrahiim aku pun mulai mengerjakan soal yang di berikan. Dan pada hari itu juga hasil olimpiade pun di umumkan. Sontak aku pun langsung panas dingin, dengan perasaan yang tidak karuan menunggu hasilnya. Dan Alhamdulillah aku pun berhasil menjadi juara 1 olimpiade matematika tersebut, bukan hanya itu saja yang aku dapatkan, tetapi aku juga mendapatkan kepercayaan dari teman-teman,guru,kepala sekolah,hingga guru pematah semangat aku pun percaya kalau aku mampu dan bias menjadi yang terbaik dan meraih hasil yang sangat memuaskan.
2 tahun kemudaian, aku lulus dengan nilai yang bagus,memuaskan dan prestasi yang membanggakan. Lepas dari pendidikan putih abu-abu tersebut, aku pun berencana berencana meneruskan pendidikan ke sekolah tinggi yang aku mau yaitu sekolah tinggi akuntansi Negara( STAN). Dan Alhamdulillah aku pun di terima di ikatan dinas yang aku mau yaitu STAN. Suatu ketika aku bertemu sama ibu rose guru pematah semangat aku waktu itu. Guru itu sekarang berbalik malu saat melihat aku di reuni sekolah. Tetapi tanpa aku sadagi ibu Rose itu sudah menjadi pembakar semangat aku.
( aku menghampiri ibu Rose )
Shelena : Apa kabar,bu?
Ibu Rose : baik, kamu sendiri gimana?
Shelena : baik juga bu, sebelumnya aku mau minta maaf atas semua kesalahanku, dan terimakasih buat ejekan, hinaan yang ibu kasih ke aku, yang sekrang aku jadikan sebuah batu loncatan . karena niat aku lebih berharga dari sebuah angka akademis, prestasi nilai, taraf hidup, kekurangan fisik, minoritas suku, dan apa pun yang aku berbeda dengan lingkungan aku, dan sekarang aku pun mampu dan bisa menjadi yang terbaik “ terimakasih bu “.
Ibu Rose : iya sama-sama, nak! Maafin ibu juga ya, karena udah bicara yang bikin kamu sakit hati.
Shelena : iya bu ( sambil berpelukana)
Setelah berbincang-bincang sama ibu rose, aku pun mulai kembali menemui teman-temanku yang sudah lama tidak bertemu. Kita kembali mengenang masa-masa SMA dulu,kita bercerita, bercanda, hingga larut malam. Dan akhirnya acara reuni SMA N 1 SINDANG pun selesai.
(membangunkan lamunan ayah yang sedang mendengarkan cerita aku)
Shelena : yah,ayah!bagaimana cerita aku tadi?
Ayah : Apa?
Shelena : cerita aku tadi, yah? Ayah dengerin cerita aku tadi tidak?(cemberut)
Ayah : iya anakku, ayah dengerin ko!mendengar cerita kamu tadi, ayah sangat bangga sama kamu,kamu tumbuh menjadi anak yang sangat hebat, anak yang begitu membanggakan ayahdan ibu sebagai orang tua kamu.kamu mampu bangkit, dan berdiri sendiri di saat kamu jatuh. Kamu pun mampu dan bisa menjadi yang terbaik dan membuktikan kepada dunia kalau kamu bisa sukses. Ayah dan ibu sangat bangga mempunyai anak seperti kamu, yang mampu bikin ayah dan ibu bangga.Ayah sayang banget sama kamu.
Shelena : Makasih ayah! Aku bisa menjadi seperti sekarang ini juga berkat ayah dan ibu.Ayah dan ibu selalu mengajarkan aku menjadi anak yang sabar, agar aku bisamenemukan tempat idah yang selama ini aku impikan. Seperti sekarang ini. AKu mampu menemukan arti kesabaran aku selama ini,yah! Terima kasih ayah. Akujuga sayang banget sama ayah.
Ayah : sama-sama anakku (sambil berpelukan). Kesebaran yang kita lakukan selama ini pasti akan membuahkan hasil di kemudian hari.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar